Entri Populer

Minggu, 26 April 2015

Pita Biru (Part 3 + 4)

PART 3 + 4
Geum-Young berjalan menelusuri lorong di lantai tiga. Melewati deretan siswa-siswi yang tengah berdiri di sepanjang koridor. Matanya lurus ke depan. Ia bahkan tak melihat Hee Jin yang tengah mengobrol dengan temannya sedang mencibir ke arahnya. Ia kemudian naik ke lantai tujuh. Deretan kelas di sana nampak sepi. Tak terlihat kerumunan siswa-siswi di sepanjang koridornya. Langkahnya terhenti di sebuah ruang kelas yang berjarak dua kelas dari tangga. Ia membuka knop pintu ruang kelas itu perlahan. Meski demikian, suara decitan dari knop pintu tersebut terdengar cukup keras. Setidaknya di telinganya sendiri.
Geum-Young melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut. Kedua matanya menelusuri seluruh sudut ruangan. Kemudian berhenti pada sebuah piano yang terletak di sudut ruangan bagian belakang. Ia berjalan mendekati piano tersebut. Dengan iseng menekan beberapa tuts piano yang nampak putih mengkilat.
“Seungho-ya, kalau sudah besar nanti aku akan menjadi seorang pianis yang hebat.”, kata Geum-Young kecil sembari asal menekan tuts piano di depannya.
Geuromyo[1]. Kau harus menunjukkannya padaku kelak.”, balas Seung-Ho yang saat itu tengah duduk di samping Geum-Young.”Lalu, kau juga harus berdandan yang cantik.”, lanjutnya yang sontak membuat Geum-Young terkikik geli.
Geum-Young terkikik geli mengingatnya. Seung-Ho selalu bertingkah genit, padahal mereka masih kecil.
“Hei, gadis aneh! Apa yang sedang kau tertawakan?”, celetuk seseorang yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik meja.
Geum-Young hampir saja melompat karena kagetnya. Ia sama sekali tak menyadari bahwa ada orang lain di dalam ruangan itu selain dirinya. Ia lebih terkejut lagi ketika menyadari siapa sosok yang saat ini tengah bersamanya.
*********
Sayup-sayup terdengar suara tuts piano yang tengah menjerit tanpa irama. Perlahan Min-Ho menggerakkan kepalanya yang tengah bersembunyi di balik kedua lengannya. Ia menegakkan kepalanya. Matanya menangkap sosok seorang gadis yang tengah berdiri di sudut piano yang tak jauh dari pintu masuk. Gadis itu, lagi-lagi tertawa sendirian. Tidak, bukan tertawa, tapi ia hanya terkikik geli.
“Hei, gadis aneh! Apa yang sedang kau tertawakan?”, katanya tiba-tiba.
Gadis itu terperanjat. Ia hampir saja melompat dari tempatnya. Sepertinya, gadis itu tak menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya di ruangan ini.
“K-kau…..?”, suaranya tergagap.
Min-Ho bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati gadis itu. Sedangkan gadis itu masih tak bergeming dari tempatnya. Ekspresi keterkejutannya masih belum hilang. Tapi kemudian, raut wajahnya berubah. Gadis itu menatap lekat Min-Ho. Kedua manik mata di dalam iris yang berwarna cokelat membaur dalam matanya yang hitam. Sedetik kemudian, Min-Ho dapat melihat cairan bening yang menggenang di matanya. Gadis itu tidak menangis—tidak—dia berkaca-kaca. Mata itu seolah sedang mencari jawaban. Membuatnya sedikit iba.
“Apakah, kau…. Sama sekali tak mengingat siapa aku?”, tanya gadis itu. Min-Ho terdiam, ia hanya tak mengerti apa maksud gadis yang tengah berdiri di depannya.”Kenapa namamu Kang Min-Ho?”,
Busun suriya[2]?”, Min-Ho bingung.
“Yak! Choi Geum-Young! Apa yang kau lakukan?!”. Teriak seseorang yang sontak membuat Min-Ho dan gadis di depannya menoleh ke sumber suara.
Park Hee Jin, kekasihnya. Kini tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh. Tapi, sepertinya tatapan itu bukan ditujukan kepadanya. Melainkan untuk gadis di depannya.
“Apa kau tidak mendengarkanku? Aku sudah memperingatkanmu untuk tak mendekati kekasihku. Apa kau menyukainya? Huh?”, tanya Hee Jin. Suaranya tak begitu keras. Tapi nada bicaranya mengerikan.
Min-Ho hanya pasrah ketika kemudian Hee Jin menarik lengannya. Ia hanya menurut tanpa membantah. Untuk terakhir kalinya—sebelum meninggalkan pintu—ia menoleh pada gadis tadi. Ada sesuatu yang berkelebat dalam ingatannya. Namun, ia sendiri tak begitu mengingatnya dengan jelas. Choi Geum-Young? Itukah namanya? Entahlah, sepertinya Min-Ho pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Geum-Young duduk termenung di dalam kelasnya. Matanya menatap ke luar jendela. Menerobos gumpalan mendung yang menggelayuti langit. Merasakan sepi yang menghempaskan dirinya di antara keramaian. Otaknya masih sibuk mencerna keadaan.
“Kang Seung-Ho, Kang Min-Ho…..”, gumamnya lirih,”Aiiisshh, apa ini.”, runtuknya pada dirinya sendiri kemudian mengacak rambutnya.
Ya[3]! Kenapa kau selalu mendekati Minho ku?”, tanya Hee Jin yang tiba-tiba muncul di depan Geum-Young sembari mengerucutkan bibir cherry miliknya. Ia duduk di meja Geum-Young.
“Aku tidak mendekatinya. Kami hanya tidak sengaja bertemu.”, elak Geum-Young.”Hanya saja, dia seperti seseorang yang ku kenal.”, gumamnya lirih seolah pada dirinya sendiri
Andwee[4]! Dia Minho ku. Mana mungkin kau mengenalnya. Sedangkan kau baru masuk semester ini. Aku mengenalnya sejak kelas tiga SMP, dan kami sudah berhubungan selama dua tahun.”, celoteh Hee Jin,”Jangan bilang dia seperti pacarmu.”, ancamnya sembari menyipitnya kedua mata bulatnya. Namun bagi Geum-Young, itu tidak terdengar seperti ancaman.
“Orang itu bukan pacarku, tapi temanku. Teman yang….”, Geum-Young tak meneruskan ucapannya.
“Kenapa kau mengira seperti itu?”,
“Pita biru itu, yang tergantung di tasnya. Itu, aku yang membuatnya.”
“Jangan asal bicara. Bukan hanya kau yang bisa membuatnya. Apa kau tak pernah melihat barang seperti itu di gantung di setiap toko penjual asesoris di Dongdaemun? Huh?”,
Jongmal [5]?”, tanya Geum-Young.
Kemudian ia berpikir. Kembali menjelajah di antara syaraf-syaraf otaknya. Kalau benar apa yang dibilang Hee Jin, berarti selama ini Geum-Young salah. Ia salah mengenali orang. Selama ini, ia benar-benar hanya melihat dari pita biru itu. Ia belum memastikan hal yang lain.
Hari Minggu pagi. Jalanan kota terlihat masih basah. Lalu-lalang kendaraan tak seramai biasanya. Angin dingin pertanda akan memasuki musim gugur telah datang. Geum-Young menaiki sepedanya. Mengayuhnya dengan pelan. Sesekali angin menerbangkan blazer biru mudanya. Kepalanya menengok ke kanan-kiri, menikmati pemandangan kotanya yang belum lama ini ia tinggali. Tak banyak yang ia ketahui tentang Seoul. Karena Geum-Young telah menghabiskan tujuh belas tahun tinggal di Jinan. Tempat yang menyimpan banyak kenangan. Termasuk kenangan bersama Seung-Ho.
Geum-Young mengayuh sepedanya cukup jauh. Ia bahkan tidak tahu di mana dia sekarang. Ia menuntun sepedanya, tak lagi berada di jalan besar. Ia menatap cemas ke setiap etalase-etalase di sepanjang jalan yang ia lalui, berusaha untuk mencari petunjuk. Namun, bukan petunjuk tempat yang ia temukan. Melainkan hal lain. Ia melihat ada banyak bintang yang tergantung di etalase sebuah toko. Benda yang sama seperti yang pernah diberikannya pada Seung-Ho. Yang juga dimiliki oleh Min-Ho.
“Jadi, benar kata Hee Jin.”, katanya pada dirinya sendiri,”Aku pasti salah.”. Geum-Young kemudian meneruskan langkahnya. Sementara otaknya masih berpikir. “Jadi, selama ini aku salah mengenali orang? OMO[6]!! Memalukan sekali.”,
Ingatan itu kembali muncul. Saat ia melihat bayangan Min-Ho pertama kali, dan ia menyangkanya Seung-Ho. Saat ia ketahuan memandangi Min-Ho secara diam-diam, dan ia bertanya apakah Min-Ho mengenalnya. Saat itu, di ruang musik.
“Bodohnya aku. Bagaimana mungkin aku tak mengenali Seung-Ho. Bagaimana mungkin aku melihat orang lain sebagai dirinya. Aiisshhh.”, runtuknya sembari mengacak kasar rambut ikalnya.
Geum-Young sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari ketika sebuah mobil yang melintas di depannya menyerempet sepeda Geum-Young. Hampir saja, jika kedua telapak tangan besar tak mencengkeram lengannya cukup kuat. Saat ia menatap sosok pemilik telapak tangan itu, matanya benar-benar sulit untuk berkedip. Membuatnya terpaku.
************
 Mianhae[7], aku salah mengenalimu sebagai orang lain.”, kata Geum-Young takut-takut. Sedari tadi matanya masih menatap jalanan yang tengah dilewatinya.
“Ah, pantas saja kau selalu menatapku seolah kau mengenaliku.”, balas Minho.”Orang itu pasti sangat tampan. Karena kau bilang, dia mirip sepertiku.”, tambahnya. Geum-Young meliriknya sekilas. Kemudian mencibir.
“Dia….. jauh lebih tampan darimu.”, kata Geum-Young dengan penekanan di setiap katanya.
“Baiklah, terserah kau saja.”, Minho menyerah.”Oh! kita belum berkenalan secara resmi. Perkenalkan, namaku Kang Min-Ho.”, katanya sembari menyunggingkan seulas senyum dan mengulurkan tangan ke arah Geum-Young.
Sejenak Geum-Young ragu untuk menyambutnya. Ada sesuatu yang membuatnya harus menolak uluran tangan itu. Sesuatu yang mungkin akan membuatnya terjerumus dalam suatu hal yang rumit. Namun spertinya, hatinya tak mampu untuk menahan tangan Geum-Young.
“Choi Geum-Young.”, kata Geum-Young sembari membalas uluran tangan Minho.
Mereka saling melemparkan senyum. Kedua mata mereka berbinar. Lelaki itu bukan Kang Seung-Ho, tapi mengapa sorot mata mereka sama?


Tentu saja[1]
Apa yang kau bicarakan[2]
Hei[3]
Tidak mungkin[4]
Benarkah[5]
Astaga[6]
Maaf[7] (Non formal)
 

Geum-Young baru saja melangkah memasuki ruang kelasnya, sebelum seseorang memanggil namanya. Iapun menoleh. Kedua matanya menangkap sosok lelaki jangkung tengah tersenyum ke arahnya.
“Bisakah, aku menitipkan buku ini untuk Hee-Jin?”, tanyanya sembari mengangkat dua buah buku tebal dan menunjukkannya padaku.
“Baiklah.”, jawabku singkat, kemudian mengambil alih buku itu dari tangannya. “Kenapa tak kau berikan langsung padanya?”, tanya Geum-Young.
“Aku harus segera pulang.”, jawabnya. “Gomawo.”, lanjutnya, kemudian berbalik menjauh.
Geum-Young menatap punggung Min-Ho hingga sosoknya lenyap dari pandangannya. Entahlah, sepertinya Geum-Young masih canggung ketika berbicara pada lelaki itu. Mengingat kesalah pahaman yang menurutnya cukup memalukan. Geum-Young mengalihkan pandangannya. Ia seolah tengah mencari sosok Min-Ho dari tempatnya berdiri. Benar saja, ia menemukan sosok Min-Ho yang tengah berjalan tergesa memasuki sebuah sedan hitam yang kemudian melaju meninggalkan halaman sekolah.
*********
Min-Ho menapaki jalan setapak yang menuju bukit. Sunyi, tak ada siapun di sana kecuali gundukan-gundukan tanah yang menyisakan pilu. Dedaunan kering yang bertabur di atasnya terbang tertiup angin. Menyibak helaian rumput yang tandus terbakar mentari musim panas. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah dengan nisan batu perak berbentuk kotak. Ia mengelus gundukan yang tak lebih tinggi dari pinggangnya. Kemudian tersenyum.
Hyung, apa kau baik-baik saja?”, tanyanya pada seseorang yang berada dalam gundukan itu, seolah-olah ia dapat mendengarnya. “Aku membawakan benda kesayanganmu.”, lanjutnya sembari meletakkan sebuah gantungan kunci berbentuk bintang berwarna biru di atas gundukan tanah itu.
Selalu benda itu yang ia bawa setiap kali datang di peringatan kematian saudaranya. Pita warna biru yang dianyam menyerupai bentuk bintang. Hingga benda-benda seperti itu banyak terhampar di atas gundukan kuburan saudaranya.
Hyung, sampai sekarang aku masih penasaran dengan orang itu. Seharusnya kau menceritakannya lebih awal sebelum kau pergi.”, kali ini Min-Ho sedikit menggerutu.
Tiba-tiba saja ia mengingat hal-hal yang pernah diceritakan oleh saudaranya itu. Hal-hal yang membuatnya penasaran, dan selalu begitu. Saudaranya selalu membuatnya penasaran. Tentang sesuatu yang mungkin membuatnya terkejut.
**********
“Apa yang sedang kau lakukan?”, celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Geum-Young. Geum-Young melompat kaget, dan nyaris menepis pot-pot yang ada di depannya.
“Astaga! Kau mengagetkanku.”, gerutu Geum-Young. “Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Hee-Jin?”,
“Kenapa kau selalu menanyakan Hee-Jin? Apa kau menyukainya?”,
“Bukankah kau pacarnya? Kau ini aneh sekali.”, ledek Geum-Young sembari sibuk merapikan tanaman-tanaman di dekatnya.
“Hei! Apa ini?”, kata Min-Ho tiba-tiba. Geum-Young yang mendengarnya berbalik dan ikut menyaksikan kehebohan yang dibuat Min-Ho.
“Wah, assa assa! Ini jeruk mand[1]arin!”, pekik Geum-Young girang.”Ternyata sudah tumbuh, bukankah ini indah?”, tanyanya dengan mata berbinar dan senyum yang mengembang.
“Bagaimana ini bisa tumbuh di sini? Bukankah ini masih musim panas?”,
“Entahlah, bahkan musim gugur akan segera tiba. Aku rasa, tanganku telah membuatnya dapat tumbuh meski musim gugur sekalipun.”.
Min-Ho diam-diam menatap gadis itu. Ia bahkan tak sadar ikut tersenyum ketika melihat ekspresi Geum-Young. Itu memang luar biasa. Bagaimana bisa tanaman itu tumbuh di akhir musim panas? Apakah ada sesuatu yang baik akan terjadi? Entahlah, Min-Ho sendiri juga tak tahu. Tapi sepertinya ia tahu satu hal, Geum-Young terlihat manis ketika ia tengah tersenyum seperti ini.
“Apakah kau yang merawat tanaman di sini?”, tanya Min-Ho.
“Tidak juga, aku hanya membantu mengurus tempat ini. Bukankah mereka sangat cantik ketika berbunga?”, jawab Geum-Young. Matanya mengitari setiap celah tempat itu.
“Ya, sangat cantik.”, balas Min-Ho.
***********
Geum-Young merogoh setiap isi kardus yang berada di gudang rumahnya. ia mengeluarkan setiap isinya, kemudian memerikasanya. Beberapakali ia terlihat terbatuk kecil karena debu-debu nakal yang menggelitiki saluran pernapasannya. Titik-titik keringat mulai muncul dari pelipisnya, ia mengusapnya dengan punggung tangannya. Tangannya berhenti mencari setelah matanya menangkap sebuah kotak berwarna biru muda yang warnanya sedikit pudar. Perlahan ia membukanya.
Sebuah tuts piano tua yang sedikit berlubang, sebuah lollipop yang masih lengkap dengan plastiknya namun telah sedikit berjamur, sebuah penjepit rambut berwarna biru muda, sebuah gantungan kunci, dan sebuah foto. Geum-Young memandangi benda-benda itu, bibirnya menaik membentuk seulas senyum. Ia mengelus gantungan kunci itu. Gantungan kunci yang persis seperti milik Min-Ho. Benda yang membuatnya mengira Min-Ho adalah Seung-Ho.
Geum-Young ingat ketika ia membuat benda itu pertama kali. Saat itu umurnya baru enam tahun. Tapi ia bisa membuat benda-benda seperti itu. Ibunya yang mengajari Geum-Young. tujuh belas tahun hidup di Seoul tak membuatnya menyadari bahawa benda-benda seperti itu ada banyak orang yang bisa membuatnya.
Di dalam foto itu terpampang foto seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang tengah membentuk huruf V dengan jari-jari mungilnya. Foto itu diambil ketika Geum-Young berumur tujuh tahun, sedangkan Seung-Ho delapan tahun. Seminggu sebelum Seung-Ho pergi. Entah mengapa ketika mengingat hal itu, dada Geum-Young terasa sesak. Ia yakin tidak menyimpan rasa yang lebih dari sekedar teman. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia menganggap Seung-Ho sebagai teman baiknya, tidak lebih. Namun ketika Seung-Ho pergi tanpa kabar, itu membuatnya sakit.
“Kang Seung-Ho, eodiga?”, gumamnya lirih.
************
“Hyung, benda apa ini?”, tanya Min-Ho pada kakaknya.
“Bukankah ini cantik? Seseorang yang memberikannya padaku.”, jawab kakaknya sembari tersenyum lebar.
Aigoo, kau harus cepat keluar dari tempat ini agar bisa bertemu dengan orang itu.”, keluh Min-Ho.
Min-Ho tersenyum kecut ketika teringat percakapannya dengan kakaknya. Matanya berair, ia berusaha untuk tersenyum. Saat ini, ia benar-benar merindukan kakaknya. Karena orang itulah yang selalu mengajarinya hal-hal baru. Kakaknya lah yang selalu membelanya ketika orang tuanya memarahi Min-Ho.
Hyung,….”, gumamnya sembari mengelus gantungan kunci milik kakaknya.
Penyakit itu telah menggerogoti sebagian syaraf pusat kakaknya. Setelah empat tahun lelaki itu bertahan, berjuang melawan penyakit ganas itu, ia berakhir di pembaringan terakhirnya. Di tempat yang asing, tanpa seorangpun di sisinya.
“Gadis itu, bagaimana kalau dia mencarimu? Kau bilang, kau akan mengenalkannya padaku. Hyung, aku pasti akan menemukannya.”,


[1] asik

Sabtu, 27 September 2014

Pita Biru Part 2



Geum-Young berjalan di antara rak-rak yang menjulang tinggi. Di tangannya tengah bertengger beberapa buku yang—sepertinya—membuat Geum-Young kesulitan menjangkau rak-rak yang lebih tinggi. Ia berusaha berjinjit dan mengulurkan tangannya lebih tinggi.
“Tubuhmu terlalu pendek untuk menjangkau rak itu.”, celetuk seorang lelaki di belakangnya.
Geum-Young menoleh. Kedua matanya menangkap sosok lelaki berperawakan tinggi dengan rambut cokelat ikal. Lelaki yang tidak lain adalah Seung-Ho.
 “Astaga! Kang Seung Ho.”,
Geum-Young terperanjat melihat sosok yang kini tengah menatapnya. Dia—Kang Seung Ho—menatapnya. Sungguh, jangtungnya tengah melompat kegirangan. Sudah berapa lama ia tak melihat lelaki itu?
“Kau seperti orang gila.”, kata Seung-Ho datar. Kemudian ia berbalik dan melangkah menjauh.
Seketika itu juga, lamunan Geum-Young buyar. Ada rasa kecewa yang ,menyelinap di kalbunya. ‘Apakah dia tak mengenaliku?’
Geum-Young mengerjapkan kelopak mata cantiknya beberapa kali. Seolah memastikan yang di depannya itu adalah Kang Seung-Ho. Kang seung-Ho yang ia kenal. Matanya kembali terpaku pada sosok di hadapannya ketika lelaki itu mengulurkan tangannya menuju rak yang sama seperti yang ia tuju.
Meski tujuh tahun telah berlalu, Geum-Young sama sekali tak pernah melupakan sosok yang kini tengah berdiri di depannya. Ia begitu yakin, karena pita biru itu. Karena pita itu, ia yang membuatnya untuk Seung-Ho. Sebagai hadiah tahun baru. Namun sepertinya, ingatan itu hanya milik Geum-Young.
“Apa kau sedang terpesona dengan ketampananku, nona?”, tanya Seung-Ho dengan penekanan di akhir kalimatnya, yang sontak membuat Geum-Young tersadar dari lamunannya
“T-tidak. Kenapa aku harus terpesona.”, katanya gugup. Kemudian menyahut sebuah buku di tangan Seung-Ho.”Terimakasih atas bantuanmu, tuan.”, lanjut Geum-Young dengan sedikit ledekan.
Geum-Young berbalik dan berjalan mejauh. Sejak hari itu—hari pertamanya melihat Seung-Ho, lagi—Geum-Young menyimpan ribuan kata yang hendak ia lontarkan pada lelaki itu. Tapi, ia terpaksa harus menahannya kembali. Karena Seung-Ho tak melihatnya sebagai orang yang ia kenal, tapi orang lain.
Angin dingin khas musim panas berhembus begitu lembut. Bercumbu dengan keramaian malam kota Seoul. Membawa aroma makanan milik para pedagang di pinggiran jalan. Malam belum begitu larut ketika Geum-Yong melangkahkan kakinya keluar dari bus yang ia tumpangi. Kakinya kembali melangkah, menyusuri trotoar di sepanjang jalanan kota. Ia menengadahkan kepalanya. Menatap gelapnya langit malam yang begitu pekat. Tanpa taburan bintang dan senyum sang bulan.
“Ah, aku merindukanmu, bintang.”, gumam Geum-Young. Kedua kakinya masih melangkah lurus. Namun, kepalanya lebih suka menunduk dan menatap trotoar yang ia pijak.
DUKK! Geum-Young terhuyung ke belakang. Hampir saja ia terjatuh, namun kedua kakinya cukup kuat untuk menahan tubuh mungilnya. Tak sengaja ia menabrak seorang pria tua. Membuat kantung plastik –milik orang itu—dan beberapa barang di dalamnya jatuh di atas trotoar
Chosongeyo, Ahjussi.[1]”, katanya sembari menundukkan seperempat tubuhnya beberapa kali pada pria paruh baya di depannya. Kemudian ia memunguti barang-barang yang tercecer di bawahnya.
Geum-Young menyerahkan kembali kantung plastik itu. Sedangkan pria paruh baya itu hanya tersenyum pada Geum-Young, kemudian berlalu. Kantung plastik yang dibawanya bergoyang-goyang karena tertiup angin yang semakin kencang. Geum-Young menatap lelaki itu hingga sosoknya menghilang di balik sedan hitam yang terparkir di depan sebuah apotek, tak jauh dari tempat Geum-Young berdiri.
“Aiiissh, Choi Geum-Young, apa yang sedang kau pikirkan?”, tanyanya pada diri sendiri. Kemudian ia kembali berjalan menjauhi tempat itu.
Tiba-tiba saja sebuah ingatan berkelebat di benaknya. Ia merasa pernah melihat pria itu sebelumnya. Entahlah, Geum-Young sendiri tidak begitu yakin. Ia mencoba mengingatnya kembali. Berusaha mengorek lebih dalam ingatannya. Matanya melebar begitu mengingat lelaki itu.
Geum-Young berdiri di samping tembok yang tak jauh dari kantor guru. Ia menyembulkan kepalanya, tapi menahan tubuhnya untuk tetap bersembunyi di balik tembok itu. Matanya tak henti-hentinya mengawasi pintu ruang guru. Tiba-tiba saja, seorang pria paruh baya keluar dari ruangan itu bersama dengan seorang anak lelaki di sampingnya. Anak itu menunduk lesu. Sedangkan pria paruh baya itu mendekapnya dengan sebelah tangan.
Geum-Young terus menatap kedua orang itu hingga akhirnya mereka menghilang di ujung koridor. Geum-Young berlari dari tempatnya berdiri. Ia berlari ke arah kedua orang tadi berjalan, hingga akhirnya kedua kakinya melangkah ke halaman sekolah yang luas. Matanya kembali menangkap sosok kedua orang itu, hendak memasuki sedan hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Seungho-ya[2]! Eodiga[3]?”, teriaknya. Membuat anak laki-laki itu menoleh ke arahnya. Anak itu tampak terkejut melihat Geum-Young. Kemudian ia berlari kecil ke arahnya.

“Aku mau jalan-jalan sebentar. Kau tidak boleh ikut denganku, Geum-Young.”, jawab Seung-Ho polos.
“Jalan-jalan ke mana? Apakah lama?”, tanya Geum-Young lagi.
“Entahlah, tapi kau harus menungguku sampai aku pulang.”, jawab Seung-Ho. Kemudian ia mengeluarkan sebuah tuts piano dari dalam sakunya.”Maaf, aku sudah menyembunyikan ini darimu. Sekarang aku kembalikan padamu.”, katanya sembari mengulurkan benda itu pada Geum-Young.
Geum-Young masih berdiri di sana. Menatap mobil yang ditumpangi oleh Seung-Ho hingga menghilang dari pandangannya. Seung-ho bilang, dia hanya jalan-jalan. Tapi entah mengapa Geum-Young tidak merasa sepertinya Seung-Ho berbohong kepadanya. Hingga akhirnya ia menyadari, Seung-Ho tidak pergi jalan-jalan. Karena ia tak kunjung datang menemuinya.
Hembusan angin musim panas yang hangat membelai lembut rerumputan yang ada di halaman belakang sekolah. Menerbangkan dedaunan kering yang saling bergesekan. Membawa aroma manis buah murbei yang sudah mulai masak.
Geum-Young duduk di sebuah kursi di bawah pohon fig. Tangan kanannya nampak sedang menyuapkan donat ke dalam mulut. Sedangkan tangan kirinya memegang sebuah buku tebal yang berisi kalimat-kalimat yang panjang. Matanya asik memelototi setiap kata pada bukunya. Kali ini ia menatap ke arah jalan yang tak begitu jauh darinya. Lagi-lagi ia menangkap sosok itu—Kang Seung-Ho—bersama dengan seorang gadis. Jelas-jelas Geum-Young mengenali gadis yang saat ini tengah berjalan bersama Seung-Ho. Ia sering sekali melihat mereka berdua berjalan bersama. Tapi ia sama sekali tak tahu apa-apa mengenai mereka berdua.
“Ada apa dengan mereka berdua? Sepertinya mereka sangat dekat.”, katanya sembari membersihkan remah-remah donat yang menempel di bibirnya.
Geum-Young terus memperhatikan kedua orang itu. Hingga ia menyadari bahwa mata elang Seung-Ho tengah menatap ke arahnya. Geum-Young salah tingkah. Buru-buru ia membereskan bekal makan siangnya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ia terkejut begitu mendegar seseorang memanggilnya.
“Yak! Kenapa kau selalu menatapku seperti itu?”, tanya orang itu. Geum-Young tahu siapa orang itu, tanpa ia harus membalikkan badannya terlebih dahulu.
“A-apa maksudmu dengan ‘menatap seperti itu’?”, tanya Geum-Young setelah ia berbalik. Jelas- jelas ia terlihat gugup.
“Ck, setiap kali kau melihatku, kau selalu menatapku seperti itu. Seakan terpaku. Apa kau menyukaiku?”, tanya Seung-Ho lantang.
“Jangan terlalu percaya diri seperti itu. Bagaimana bisa aku menyukaimu?”, elak Geum-Young. Ia merasakan, saat ini pipinya sedang memanas.
“Minho-ya, apa yang sedang kau lakukan di sini?”, celetuk seorang gadis yang tiba-tiba menepuk bahu Seung-Ho.
Kami—aku dan Seung-Ho—menoleh. Gadis yang kudapati sering bersama Seung-Ho kini tengah berdiri di sampingnya. Kedua tangannya melingkar di lengan panjang Seung-Ho, membuatku menaikkan sebelah alisku. Kenapa dia memanggilnya Minho?
“Minho?”, tanyaku tak yakin. Berusaha memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Ya, Kang Minho. Wae[4]?”, tanya gadis itu sinis.
“B-bukankah dia Kang Seung-Ho?”, Geum-Young  memastikan lagi.
“Apa kau tak melihat ID di rompiku? Namaku Minho. Bukan Seung-Ho.”, jelas Seung-Ho sembari menunjuk ID di rompinya.
Kedua mata Geum-Young mengikuti jari telunjuk Seung-Ho. Benar, di sana tertulis Kang Min-Ho. Bagaimana bisa? Bukankah waktu itu Ia melihatnya sendiri, pita biru yang tergantung di tas sekolah lelaki itu. Geum-Young hanya membuatnya untuk Seung-Ho. Tapi kenapa orang di depannya yang baru saja ia ketahui bernama Min-Ho bisa memiliki benda itu. Geum-Young tak sadar telah menatap ID milik lelaki itu sangat lama, dengan tatapan tak percaya.
“Hei, jangan menatap kekasihku seperti itu.”, kata gadis di samping Min-Ho.
Nada bicaranya biasa saja, datar dan tak begitu lantang. Namun, entah mengapa gendang telinga Geum-Young bergetar begitu kencang. Seolah baru saja terdengar suara yang begitu luar biasa mengejutkan. Matanya melebar. Lidahnya kelu. Ini pasti salah. Seung-Ho yang ku kira adalah Min-Ho, kekasih Hee Jin.
“Kau tak mengingatku?”, tanya Geum-Young tiba-tiba. Sorot matanya berubah. Tak ada senyuman yang tergambar ketika ia menatap mata lelaki itu.
“Apa maksudmu?”, tanya Hee Jin yang mulai tak sabar dengan sikap Geum-Young.”Sudahlah, jangan mengganggunya lagi.”, tambahnya, kemudian menarik lengan Min-Ho dan menjauh dari tempat itu.
Sementara Geum-Young masih berdiri di sana dengan posisi yang sama. Matanya menatap kepergian dua orang itu. Otaknya masih belum mampu menerima apa yang dikatakan Hee-Jin. Min-Ho? Kekasih? Tunggu dulu, tapi mengapa ia harus kaget ketika mendengar kata ‘kekasih’? Bukankah tak ada hubungan yang lebih dari sekedar sahabat di antara mereka berdua? Entahlah, yang jelas ia yakin bahwa orang yang selama ini dikiranya Seung-Ho benar-benar Seung-Ho. Ia bahkan dapat mengenali Seung-Ho hanya dengan melihat bayangannya di tangga. Tapi, bagaimana bisa orang itu mengatakan bahwa dia adalah Min-Ho? Apakah dia hilang ingatan.
Tiba-tiba saja, Geum-Young merasa rumput-rumput di taman itu bergoyang seolah sedang menertawakan dirinya. Menertawakan kebodohannya.


Maafkan aku, Paman[1] (Formal)
Panggilan untuk orang dekat(berakhiran huruf vokal)[2]
Mau ke mana[3]
Kenapa[4]